Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tata cara mengusap kepala bagi wanita yang mengenakan khimar (jilbab)

Gambar dari Google




*[Belajar Fikih Ringkas] Tata cara mengusap kepala bagi wanita yang mengenakan khimar (jilbab)*

🔸 Apabila wanita berwudhu sementara kondisi tidak memungkinkan dia melepas jilbab untuk mengusap kepala, misal dikarenakan tempat berwudhu terbuka sehingga aurat akan terlihat, maka wanita memiliki dua opsi dalam kondisi ini:

*Pertama*
Apabila khimar dikenakan dengan cara dililitkan atau sulit untuk dilepaskan seperti imamah pada pria, maka status khimar sama dengan imamah sehingga ketentuannya cukup mengusap khimar tersebut sebagaimana imamah diusap.

Pendapat ini merupakan pendapat imam Ahmad dan lebih sesuai dengan dalil yang ada [al-Mughni 1/219]. Dari Bilal, beliau menyampaikan,

مَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ وَالْخِمَارِ

_“Nabi mengusap dua khuf dan khimar (imamah) beliau.”_ [HR. Muslim 275].

*Kedua*
Apabila khimar tersebut dikenakan tidak dengan cara dililitkan atau mudah dilepaskan, tapi dibiarkan menjuntai, maka statusnya seperti songkok, peci, topi atau gutrah (penutup kepala khas Saudi) yang dikenakan pria, dengan begitu ketika hendak mengusap kepala, disyari’atkan mencopot khimar kemudian mengusap kepala. Demikian yang dicontohkan oleh mayoritas ulama salaf seperti Shafiyah bintu Abi Ubaid, Ibnu al-Musayyib, Nafi’ dan an-Nakha’iy [HR. Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (50,51); Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (250,251)].

Sejumlah ulama salaf seperti ‘Atha, Ibnu Abi Laila dan al-Hasan menyatakan meski khimar yang dikenakan mudah dilepas, wanita boleh sekadar mengusap khimarnya jika dia juga mengusap ubun-ubun (bagian depan kepala). Alasan diperbolehkannya adalah karena dengan mengusap ubun-ubun, dia telah mengusap kadar yang sah dari bagian kepala yang diusap.

Sebagian ulama salaf yang lain memfatwakan jika wanita mengusap salah satu bagian kepala selain ubun-ubun sekaligus mengusap khimarnya, maka hal itu sudah mencukupi. Hal ini difatwakan oleh Abu al-Aliyah dan itulah yang diajarkan kepada istri dan keluarga beliau. Beliau termasuk tabi’in yang senior dan bertemu dengan al-Khulafa ar-Rasyidin [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (246)].

Demikian itulah yang dilakukan oleh wanita generasi terdahulu sebagaimana riwayat yang shahih dari Fathimah bintu al-Mundzir, dimana beliau mengusap kedua bagian samping kepala ketika berwudhu, dan beliau sempat bertemu dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (247)].

*Kesimpulan*
Wanita yang mengenakan khimar (jilbab) memiliki beberapa kondisi ketika mengusap kepala, yaitu:

📌 Jika khimar mudah dilepas dan aman dari pandangan lawan jenis non-mahram, maka sebaiknya khimar dicopot dan tetap mengusap kepala.

📌 Jika khimar sulit dilepas dan/atau tidak aman dari pandangan lawan jenis non-mahram karena misalnya tempat berwudhu terbuka, maka dia mengusap khimar yang menutupi kepala sebagai ganti mengusap kepala.

📌 Meski khimar mudah dilepas, beberapa ulama memberi opsi keringanan, yaitu dengan:

1. Mengusap ubun-ubun dan khimar;

2. Mengusap bagian kepala apa pun dan khimar; atau

3. Mengusap bagian samping kepala dan khimar.

_Wallahu a'lam._

_Disadur dari: Shifat Wudhu an-Nabiy shallallahu ‘alaihi wa sallam Syarh Hadits Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu._
Hikam Fajri ®
Hikam Fajri ® Gue Hikam Fajri orangnye suka ngopi. Hehe... Jika ada pertanyaan, kritik, atau saran bisa langsung hubungin gue ke alamat Email [email protected]

Posting Komentar untuk "Tata cara mengusap kepala bagi wanita yang mengenakan khimar (jilbab)"

Berlangganan via Email

close
close
Getfile