Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Haruskah Liberal ?



Penulis : Hikam Fajri



Sebelum kita masuk ke pembahasan ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu definisi kata Liberal itu sendiri

Liberal secara etimologi adalah 1. Bersifat bebas; 2. Berpandangan bebas (luas dan terbuka);
(Sumber : KBBI )

Sedangkan secara terminologi Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama. Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. (Sumber : WikiPedia )

Dari pengertian kata liberal tersebut, ada sebuah pertanyaan yang menarik untuk dibahas, "Haruskah Liberal ?"


Liberal pada dasarnya adalah bentuk olah pikir yang bebas yang tidak mau terikat dengan doktrinasi satu pemikiran semata. Adapun menanggapi sebuah pemikiran liberal adalah dengan cara tidak dibenturkan dengan perkara yang masih khilafiyah dalam hukum agama misalnya.

Lalu boleh kah kita berpikir secara liberal ? Berbicara boleh atau tidak, maka simaklah hadits berikut ini ;

إنَّ اللهَ يرضى لكم ثلاثًا ، ويسخَطُ لكم ثلاثًا ؛ يرضى لكم أن تعبُدوه ، ولا تشركوا به شيئًا ، وأن تعتَصِموا بحبل اللهِ جميعًا ، وأن تُناصِحوا من ولَّاهُ اللهِ أمرَكم ، ويكره لكم : قيلَ و قالَ ، وكثرةَ السؤالِ ، وإضاعةَ المالِ

الراوي: أبو هريرة – المحدث: الألباني – المصدر: صحيح الأدب المفرد – الصفحة أو الرقم: 343خلاصة حكم المحدث: صحيح

Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallāhu ‘Anhu berkata, Rasūlullāh Shallallāhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhānahu wa Ta’āla ridha kepada kalian 3 hal dan Allāh murka kepada kalian pada 3 hal. Allāh ridha kepada kalian: jika kalian beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukan Nya sedikit pun, dan berpegang teguh kepada tali Allāh dan tidak bercerai berai, dan saling menasihati antara pemimpin kalian. Dan Allah tidak suka pada: qīla wa qāla (katanya katanya), banyak bertanya, dan menghamburkan harta (al-Albānī dalam Shahih Adab al-Mufrad No. 343).

Yang saya garis bawahi adalah "qīla wa qāla", dimana kalimat tersebut dapat diartikan secara bebas bahwa kita dilarang mengikuti ucapan seseorang tanpa ada alasan atau bukti yang kuat yang bisa dijadikan hujjah.


Cara berpikir liberal memanglah liar, para ahli fiqih pun rata-rata menggunakan cara berpikir ini, tapi sistematis untuk menentukan suatu hukum yang bisa dianalogikan dengan konteks dalil yang ada.


Para fuqoha (ahli fiqih) adalah ahli liberal yang religius, kenapa demikian? Karena pemikiran mereka masih mempunyai pegangan agama. Sedangkan orang yang religius, tapi liberal adalah orang yang melepaskan tuntunan agama demi "keuntungan pribadi", mereka tidak komitmen dengan konsep dasar.


Jadi, jawaban dari pertanyaan "harus kah liberal ?" adalah relatif, boleh dilakukan jika perlu, boleh diabaikan jika hukum suatu agama sudah qhot'i yang tidak diperdebatkan lagi oleh para ulama atau fuqoha.


Sekian opini dari saya penikmat kopi hitam dengan campuran sedikit susu.


#Ngopi
Hikam Fajri ®
Hikam Fajri ® Gue Hikam Fajri orangnye suka ngopi. Hehe... Jika ada pertanyaan, kritik, atau saran bisa langsung hubungin gue ke alamat Email [email protected]

Posting Komentar untuk "Haruskah Liberal ?"

Berlangganan via Email

close
close
Getfile