Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Selamatkan Aqidahmu Dalam Menyikapi Penyakit Menular

Sumber Gambar

Sumber dari Ustadz Nawi
Editor : Hikam Fajri


Akhir-akhir ini virus Corona atau disebut Covid-19 menjadi buah bibir yang hangat diperbincangkan masyarakat dunia, karena kabarnya virus ini sangat cepat penularannya dan mematikan. Lantas bagaimana menurut pandangan Islam tentang penyakit menular termasuk virus Corona ? Berikut beberapa hadits yang dapat kami sampaikan agar kita bijak dalam menghadapinya.


لَا عَدْوَى...الحديث


Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada penyakit menular, al hadits (sempurnakan hadits ini).
(HSR. Muslim : 2220 dari Abu Hurairah).

KET : Hadits ini menafikan adanya penyakit menular.


وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ... Dan larilah dari penyakit kusta (lepra). (HSR. al Bukhari : 5707 dari 
Abu Hurairah).

KET : Hadits pertama menafikan adanya penyakit menular dan hadits kedua menetapkan adanya penyakit menular.
Kedua hadits ini shahih.

Thariqatul Jam'i Ibnu Hajar al Asqalani :
Sesungguhnya penyakit menular itu tidak ada dan tidak menetapkan, dengan dalil sabdanya shallallahu 'alaihi wa sallam


لَا يُعْدِي  شَيْءٌ شَيْئًا


"Sesuatu tidak dapat menjangkiti sesuatu". (HSR. At Tirmidzi : 2143 dari Ibnu Mas'ud).

Dan sabdanya bagi orang yang menyelisihinya yaitu bahwa unta yang berkudis yang berada di antara unta-unta yang sehat lalu bergaul dengannya lalu menyebabkan berkudis :


فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ


"Siapakah yang menjangkiti pertama?"
(HSR. Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad dari Abu Hurairah).
Yakni bahwa Allah Ta'ala telah menciptakan penyakit itu pada yang kedua (dari unta) sebagaiman telah menciptakannya pada yang pertama, adapun perintah supaya lari dari penyakit kusta maka itu termasuk bab sadda-dz dzara'i yaitu supaya bagi orang yang bergaul dengan orang yang berpenyakit kusta itu tidak terkena penyakit itu dengan taqdir Allah Ta'ala yang menciptakan bukan dengan sebab penyakit menular yang dinafikan itu, karena orang menyangka bahwa itu terjadi dengan sebab dia bergaul dengannya, lalu dia meyakini kebenaran adanya penyakit menular lalu dia jatuh ke dalam dosa, lalu seseorang diperintah menjauhi orang yang berpenyakit kusta itu sebagai pencegahan terjadinya keyakinan ini yang menyebabkan jatuh ke dalam dosa.

(Lihat at Taisir Mushtalah Hadits : Dr. Mahmud Thahhan Bab al Muhkam Dan Mukhtaliful Hadits).

Catatan : Sadda-dz Dzara'i : Sadda artinya menutup, adz Dzara'i jama' dari dzari'ah artinya wasilah (perantaraan), maksudnya : persoalan yang zhahirnya mubah tapi dengannya dapat sampai kepada perbuatan yang dilarang. (Lihat al Bayan Kitab Ushul Fiqh 'Abdul Hamid Hakim).

Dalam Al-Quran juga disebutkan, berikut penjelasannya ;

Ayat Tentang Wabah Tho'un Pernah Terjadi Di Masa Bani Israil


أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ خَرَجُوا۟ مِن دِيَٰرِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ ٱلْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ ٱللَّهُ مُوتُوا۟ ثُمَّ أَحْيَٰهُمْۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ 


Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena takut mati? Lalu Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kamu!” Kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Al Baqarah : 243).


رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُمْ كَانُوا أَرْبَعَةَ آلَافٍ وَعَنْهُ: كَانُوا ثَمَانِيَةَ آلَافٍ.


Telah diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas bahwa mereka berjumlah empat ribu orang, dan darinya (Ibnu 'Abbas) : mereka delapan ribu.


وَقَالَ أَبُو صَالِحٍ: تِسْعَةُ آلَافٍ وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَرْبَعُونَ أَلْفًا وَقَالَ وَهْبُ بْنُ مُنَبِّهٍ وَأَبُو مَالِكٍ: كَانُوا بِضْعَةً وثلاثين ألفًا

Dan telah berkata Abu Shalih : sembilan ribu. Dan dari Ibnu 'Abbas empat puluh ribu. Dan telah berkata Wahb bin Munabbih dan Abu Malik : mereka tiga puluh ribu lebih.


وَرَوَى ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانُوا أَهْلَ قَرْيَةٍ يُقَالُ لَهَا: دَاوَرْدَانَ. وَكَذَا قَالَ السُّدِّيُّ وَأَبُو صَالِحٍ وَزَادَ: مِنْ قِبَلِ وَاسِطٍ. وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ: كَانُوا مَنْ أَهْلِ أَذَرِعَاتٍ، وَقَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: هَذَا مَثَلٌ. وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ: كَانُوا: مِنْ أَهْلِ دَاوَرْدَانَ: قَرْيَةٌ عَلَى فَرْسَخٍ مِنْ وَاسِطٍ.


Dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas dia berkata : mereka penduduk negeri namanya Dawardan.
Begitu juga telah berkata as Suddi dan Abu Shalih dan dia menambah dari arah yang tengah. Dan telah berkata Sa'id bin 'Abdul 'Aziz dari 'Atha dia berkata : dari penduduk Adzari'at. Dan telah berkata Ibnu Juraij dari 'Atha dia berkata : ini perumpamaan. Dan 'Ali bin 'Ashim berkata : dari penduduk Dawardan negeri kira-kira satu farskh dari tengah.


وَقَالَ وَكِيعُ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي تَفْسِيرِهِ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَيْسَرَةَ بْنِ حَبِيبٍ النَّهْدِيِّ، عَنِ الْمِنْهَالِ بْنِ عَمْرٍو الْأَسَدِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: ﴿أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ﴾ قَالَ: كَانُوا أَرْبَعَةَ آلَافٍ خَرَجُوا فِرَارًا مِنَ الطَّاعُونِ قَالُوا: نَأْتِي أَرْضًا لَيْسَ بِهَا مَوْتٌ حَتَّى إِذَا كَانُوا بِمَوْضِعِ كَذَا وَكَذَا قَالَ اللَّهُ لَهُمْ مُوتُوا فَمَاتُوا فَمَرَّ عَلَيْهِمْ نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ فَدَعَا رَبَّهُ أَنْ يُحْيِيَهُمْ فَأَحْيَاهُمْ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ﴾ الْآيَةَ.


Dan telah berkata Waki' bin al Jarrah di dalam tafsirnya : telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Maysarah bin Habib an Nahdi, dari al Minhal bin 'Amrnal Asadi dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas : "Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena takut mati?" Dia (Ibnu 'Abbas berkata : mereka berjumlah empat ribu orang keluar lantaran lari dari tho'un, mereka berkata : kita datangi satu negeri yang tidak ada kematian di sana, sehingga ketika mereka di satu tempat ini dan itu, Allah berfiman untuk mereka "matilah kalian" lalu mereka mati, lalu ada seorang Nabi diantara para Nabi melewati mereka lalu berdoa kepada Tuhannya supaya menghidupkan mereka lalu Dia (Allah) menghidupkan mereka. Itulah firmanNya 'Azza wa Jalla : "Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena takut mati?" Al Ayah (sempurnakan ayat ini).


وَذَكَرَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ السَّلَفِ أَنَّ هَؤُلَاءِ الْقَوْمَ كَانُوا أَهْلَ بَلْدَةٍ فِي زَمَانِ بَنِي إِسْرَائِيلَ اسْتَوْخَمُوا أَرْضَهُمْ وَأَصَابَهُمْ بِهَا وَبَاءٌ شَدِيدٌ فَخَرَجُوا فِرَارًا مِنَ الْمَوْتِ إِلَى الْبَرِّيَّةِ، 


Dan telah menceritakan tidak satu orang dari ulama salaf bahwa kamu itu adalah penduduk satu negeri pada jaman bani Israil, mereka mengganggap negerinya berpotensi penyakit udaranya, dan di sana wabah yang sangat menimpa mereka, lalu mereka pergi untuk menghindari dari kematian menuju sahara,


فَنَزَلُوا واديًا أفيح، فملأوا مَا بَيْنَ عُدْوَتَيْهِ فَأَرْسَلَ اللَّهُ إِلَيْهِمْ مَلَكَيْنِ أَحَدَهُمَا مِنْ أَسْفَلِ الْوَادِي وَالْآخَرَ مِنْ أَعْلَاهُ فَصَاحَا بِهِمْ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَمَاتُوا عَنْ آخِرِهِمْ مَوْتَةَ رَجُلٍ وَاحِدٍ

Lalu mereka singgah di lembah yang luas, lalu memenuhi apa yang diantara kedua tempat yang tingginya, lalu Allah mengutus dua malaikat yang satunya (tiba) dari (arah) lembah yang paling bawah dan yang lain dari yang tingginya, lalu keduanya membinasakan mereka dengan satu teriakan, lalu mereka mati sampai yang akhirnya seperti sekali mati seseorang,


فَحِيزُوا إِلَى حَظَائِرَ وَبُنِي عَلَيْهِمْ جُدْرَانُ وَقُبُورٌ [وَفَنُوا] وَتَمَزَّقُوا وَتَفَرَّقُوا فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ دَهْرٍ مَرّ بِهِمْ نَبِيٌّ مِنْ أَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ يُقَالُ لَهُ: حِزْقِيلُ فَسَأَلَ اللَّهَ أَنْ يُحْيِيَهُمْ عَلَى يَدَيْهِ فَأَجَابَهُ إِلَى ذَلِكَ وَأَمَرَهُ أَنْ يَقُولَ: أَيَّتُهَا الْعِظَامُ الْبَالِيَةُ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكِ أَنْ تَجْتَمِعِي فَاجْتَمَعَ عِظَامُ كُلِّ جَسَدٍ بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَنَادَى: أَيَّتُهَا الْعِظَامُ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكِ بِأَنْ تَكْتَسِيَ لَحْمًا وَعَصَبًا وَجِلْدًا. فَكَانَ ذَلِكَ، وَهُوَ يُشَاهِدُهُ ثُمَّ أَمَرَهُ فَنَادَى: أَيَّتُهَا الْأَرْوَاحُ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكِ أَنْ تَرْجِعَ كُلُّ رُوحٍ إِلَى الْجَسَدِ الَّذِي كَانَتْ تَعْمُرُهُ. فَقَامُوا أَحْيَاءً يَنْظُرُونَ قَدْ أَحْيَاهُمُ اللَّهُ بَعْدَ رَقْدَتِهِمُ الطَّوِيلَةِ، وَهُمْ يَقُولُونَ: سُبْحَانَكَ [اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ] لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ.


Lalu mereka dikumpulkan ke pagar-pagar dan dibangun di atas mereka tembok-tembok dan kuburan-kuburan dan mereka dimakamkan dalam keadaan bercerai-berai, lalu setelah satu masa (ada yang berkata : mereka mati selama delapan hari atau tujuh. Lihat tafsir al Qurthubi) ada seorang nabi diantara para nabi bani Israil namanya Hizqil memohon kepada Allah supaya menghidupkan mereka di hadapannya lalu Dia (Allah) mengabulkannya dan memerintahnya berkata : wahai tulang-tulang yang usang sesungguhnya Allah memerintahmu supaya bersatu kembali lalu tulang-tulang setiap jasad itu bersatu sebagian terhadap sebagian, kemudian Dia (Allah) memerintahnya lagi lalu dia menyeru : wahai tulang-tulang sesungguhnya Allah memerintahmu supaya mengenakan daging, urat syaraf, dan kulit, lalu itu terjadi, dan diapun menyaksikannya, kemudian Dia (Allah) memerintahnya lagi lalu dia menyeru : wahai ruh-ruh sesungguhnya Allah memerintahmu supaya setiap ruh kembali ke jasad yang menjadikannya hidup. Lalu mereka bangun dalam keadaan hidup kembali, mereka melihat sungguh Allah telah menghidupkan mereka setelah tidurnya (mati) mereka yang panjang, dan mereka berkata "Allahumma Rabbana wa bi hamdika lailaha illa anta.


وَكَانَ فِي إِحْيَائِهِمْ عِبْرَةٌ وَدَلِيلٌ قَاطِعٌ عَلَى وُقُوعِ الْمَعَادِ الْجُسْمَانِيِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِهَذَا قَالَ: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ﴾ أَيْ: فِيمَا يُرِيهِمْ مِنَ الْآيَاتِ الْبَاهِرَةِ وَالْحُجَجِ الْقَاطِعَةِ وَالدَّلَالَاتِ الدَّامِغَةِ، ﴿وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ﴾ أَيْ: لَا يَقُومُونَ بِشُكْرِ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ بِهِ عَلَيْهِمْ فِي دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ.


Dan pada penghidupan mereka kembali ada pelajaran dan dalil yang qath'i akan terjadi hari kebangkitan yang bersifat jasmani pada hari kiamat, oleh sebab ini Dia berfirman "Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia" yaitu pada apa yang Dia perlihatkan kepada mereka merupakan ayat-ayat (tanda kekuasaan) yang terang, hujjah yang pasti, dan dalil yang tak terbantah. "Tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur" mereka tidak mengerjakan dengan syukur pada apa yang Allah telah berikan nikmat kepada mereka di dalam agamanya dan dunianya.


وَفِي هَذِهِ الْقِصَّةِ عِبْرَةٌ وَدَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ لَنْ يُغْنِيَ حَذَرٌ مِنْ قَدَرٍ وَأَنَّهُ، لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ، فَإِنَّ هَؤُلَاءِ فَرُّوا مِنَ الْوَبَاءِ طَلَبًا لِطُولِ الْحَيَاةِ فَعُومِلُوا بِنَقِيضِ قَصْدِهِمْ وَجَاءَهُمُ الْمَوْتُ سَرِيعًا فِي آنٍ وَاحِدٍ.


Dan pada kisah ini ada pelajaran dan dalil bahwa kewaspadaan tidak akan menyingkirkan dari taqdir dan bahwa tidak ada tempat berlindung dari Allah kecuali kepadaNya, karena sesungguhnya mereka telah lari dari wabah untuk mencari kehidupan yang panjang tapi mereka diperlakukan berlawanan dengan keinginan mereka dan kematian itu mendatangi mereka dengan cepat dalam waktu singkat.


وَمِنْ هَذَا الْقَبِيلِ الْحَدِيثُ الصَّحِيحُ الَّذِي رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ عِيسَى أَخْبَرَنَا مَالِكٌ وَعَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ كِلَاهُمَا عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زيد [ابن أَسْلَمَ] بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ نَوْفَلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عباس: أن عمر بن الْخَطَّابِ خَرَجَ إِلَى الشَّامِ حَتَّى إِذَا كَانَ بِسَرْغٍ لَقِيَهُ أُمَرَاءُ الْأَجْنَادِ: أَبُو عُبَيْدَةُ بْنُ الْجَرَّاحِ وَأَصْحَابُهُ فَأَخْبَرُوهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَجَاءَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَكَانَ مُتَغَيِّبًا لِبَعْضِ حَاجَتِهِ فَقَالَ: إِنَّ عِنْدِي مِنْ هَذَا عِلْمًا، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: "إِذَا كَانَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ فِيهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ، وَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ" فَحَمِدَ اللَّهَ عُمَرُ ثُمَّ انْصَرَفَ.


Dan dengan jalan ini hadits shahih yang diriwayatkan oleh imam telah Ahmad : telah menceritakan kepada kami Ishaq bin 'Isa, telah mengabarkan kepada kami Malik dan 'Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar, kedua-duanya dari az Zuhri, dari 'Abdul Humaid bin 'Abdirrahman bin Zaid bin Aslam bin al Khaththab, dari 'Abdullah bin al Harits bin Naufal, dari 'Abdullah bin 'Abbas : bahwa 'Umar bin al Khaththab pergi ke Syam sehingga ketika dia tiba di Sargh para panglima pasukan Abu 'Ubaidah bin al Jarrah dan sahabat-sahabatnya menemuinya lalu mereka mengabarkan kepadanya bahwa wabah telah terjadi di Syam, lalu dia menyebutkan hadits, lalu 'Abdurrahman bin 'Auf mendatanginya sedangkan dia tidak hadir di sebagian keperluannya, lalu dia berkata : sesungguhnya aku memiliki ilmu di tentang ini, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Jika kamu di satu negeri sedangkan kamu berada di dalamnya maka janganlah kamu keluar untuk lari darinya, dan apabila kamu mendengarnya di satu negeri maka janganlah kamu masuk ke sana. Lalu 'Umar memuji Allah kemudian dia kembali pulang.


وَأَخْرَجَاهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ الزُّهْرِيِّ بِهِ.


Dan mereka berdua (al Bukhari dan Muslim) telah mengeluarkannya di shahihain dari hadits az Zuhri dengannya.


طَرِيقٌ أُخْرَى لِبَعْضِهِ: قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ وَيَزِيدُ العمِّي قَالَا أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ: أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ أَخْبَرَ عُمَرَ، وَهُوَ فِي الشَّامِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ: "أَنَّ هَذَا السَّقَمَ عُذِّبَ بِهِ الْأُمَمُ قَبْلَكُمْ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فِي أَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ فِيهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ" قَالَ: فَرَجَعَ عُمَرُ مِنَ الشَّامِ.


Jalan lain bagi sebagiannya, Ahmad berkata : telah menceritakan kepada kami Hajjaj dan Yazid al 'Ammi, mereka berdua berkata : telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abi Dzi'b, dari az Zuhri, dari Salim, dari 'Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah : bahwa 'Abdurrahman bin 'Auf mengabarkan kepada ' Umar, ketika dia fi Syam, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam "bahwa (wabah) penyakit ini di adzab dengannya umat-umat sebelum kamu, apabila kamu mendengarnya di satu negeri maka janganlah kamu memasukinya, dan apabila terjadi di satu negeri sedangkan kamu berada di dalamnya, maka janganlah kamu keluar untuk lari darinya" dia (Abdullah) berkata : lalu 'Umar kembali dari Syam.


وَأَخْرَجَاهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ مَالِكٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ بِنَحْوِهِ.


Dan mereka berdua (al Bukhari dan Muslim) telah mengeluarkannya di shahihain dari Malik, dari az Zuhri semakna dengannya.

(Tafsir Ibnu Katsir)

Dalam menghadapi suatu permasalahan ada baiknya jangan terlalu panik dan takut, karena kepanikan dan ketakutan akan menjadi momok yang mengerikan dalam pikiran. Terkadang kenyataan tak sebesar bayangan. Tetaplah mencegah, tapi jangan sampai berlarut dalam ketakutan dan kepanikan.
Hikam Fajri ®
Hikam Fajri ® Gue Hikam Fajri orangnye suka ngopi. Hehe... Jika ada pertanyaan, kritik, atau saran bisa langsung hubungin gue ke alamat Email [email protected]

Posting Komentar untuk "Selamatkan Aqidahmu Dalam Menyikapi Penyakit Menular"

Berlangganan via Email

close
close
Getfile