Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen : Dahan Dahan yang Rindang

Cerpen : Dahan Dahan yang Rindang


Cerpen Karangan: Da'watul Khair

Editor : Hikam Fajri

Malam kian larut. Aku lihat laptopku lekat-lekat yang sedari tadi sesungguhnya telah kupandang. Beruasaha menetralisir rasa kantukku yang pelan-pelan membelai kelopak mata yang sesungguhnya sejak dari tadi pun dambakan diistirahatkan. Malam ini rasanya terlalu sukar untuk beroleh tidur yang cukup. Ujian semester makin lama dekat. Tugasku tetap tersedia yang menumpuk. Belum ulang persoalan kegiatan organisasi yang mengakibatkan otakku makin lama melilit dibuatnya.


Jariku sedari tadi sesungguhnya mengetik sesuatu. Tugas resensi buku. Momok bagiku yang dapat dibilang terlalu membenci tulisan. Sudah tiga jam. Tiga paragraf. Jujur aku tidak pandai didalam hal tulis menulis. Tugas ini mengakibatkan otakku yang melilit lebih melilit lagi. Hingga jam menunjukkan pukul 12 malam. Aku tidur. Tapi rupanya tidak dapat lagi. Sepertinya tersedia suatu hal yang mengganjal di kepalaku.


Pagi menyongsong. Aku langsung bangun dari mimpi singkatku untuk menunaikan shalat subuh. Kembali sehabis itu kegiatan pagi kulaksanakan. Seperti itu setiap paginya. Aku sesungguhnya model orang yang terlalu menyukai pagi. Entah kenapa kecuali kulihat siluet jingga diam-diam muncul dari arah timur sambil lewat dahan pepohonan, rasa-rasanya itulah sementara yang paling baik untuk melacak inspirasi. Merilekskan otakku yang sejak tadi malam melilit karena urusan tugas ini itu.


“Nabil…!” nada mama memanggilku.

Aku beranjak dari beranda kamarku yang terhitung jadi area favoritku sepanjang ini. Segera turun ke lantai bawah menuju sumber nada di mana mama memanggilku. Aku menuju dapur. Kelihatannya mama telah menyiapkan sarapan. Nasi goreng ikan tuna kesukaanku.


“Kapan ujian semestermu?” mama memulai percakapan pagi itu. Aku yang tetap mengenakan pakaian tidur duduk di meja makan sambil mengisi gelas bersama air minum.

“Sebulan lagi ma” jawabku sambil menyendok nasi goreng yang super lezat itu.

“Tugasmu? Menumpuk lagi?” mama selamanya begitu. Selalu menanyakan tugas. Mama model orang yang perhatian bersama tugasku. Karena sejak aku masuk sekolah, dapat dibilang suatu kebanggaan kecuali tugasku tidak menumpuk di akhir semester.

“Begitu deh ma. Habis berkenan gimana lagi” motivasi sarapanku pagi ini hilang karena persoalan tugas dan ujian semester.

“Mama kan selamanya bilang. Kalau tersedia tugas selesaikan hari itu juga. Jangan ditunda-tunda. Begini kan jadinya. Setiap semester numpuk terus, numpuk terus. Nggak bakal beralih kecuali bukan kamu yang mengubanya Nabil” iya ma, iya batinku

“Nggak mulai Nabil, nggak memadai setahun kamu telah jadi mahasiswa. Sebulan ulang kamu bakal jadi siswa kelas dua belas. Kalau bukan kamu yang memengaruhi cii-ciri “tunda-tunda” ini, hingga kakek nenek kamu begitu.”

“Susah ma. Tugasnya berat-berat. Terus area untuk kerja tugasnya nggak tersedia yang asik”

“Kalau persoalan berat, itu bukan alasan yang baik Nabil. Kuli bangunan saja yang tiap hari kerja seberat itu, nggak dulu tuh mama dengar ngeluh berat kayak kamu. Lagian kecuali kamu berkenan cari area yang asyik untuk kerja tugas, kamu tidak benar kecuali kamu bilang tidak ada”


Batinku menebak-nebak. Apa area yang asyik untuk kerja tugas yang setiap hari makin tambah terus. Kalau tugasnya main bola, setiap hari tentu aku bakal kerjakan. Tapi ini persoalannya lain. Tugasnya bukan main bola. Tapi bermain bersama tulisan yang sejak SD telah aku benci mati-matian.


Hari ini sesungguhnya hari libur. Setelah sarapan aku ulang ke kamarku untuk ulang lihat matahari yang makin lama naik. Dahan yang diterpa angin pagi diam-diam membuatku tersenyum. Ada suatu hal yang terlalu indah muncul pagi itu yang sepanjang ini tidak terpikirkan olehku. Mama benar. Tempat yang asyik itu sesungguhnya tersedia dan setiap hari kukunjungi.


Kupandang dahan pohon yang diterpa sinar matahari itu. Sinarnya menembus celah-celah dahan pepohonan mengakibatkan lukisan bayangan yang indah dan sedap dipandang. Aku bahagia anggota ini. Tapi kenapa tidak sejak awal terpikirkan olehku. Tempat yang asyik itu tersedia di beranda kamarku sendiri. Dengan motivasi aku langsung membuka laptopku sambil lihat indahnya matahari pagi yang makin lama naik makin lama mengakibatkan dahan-dahan yang diterpanya terhitung jadi lebih indah lagi.


Aku sadar. Sebenarnya bukan perihal tempatnya kami dapat tenang didalam mengerjakan sesuatu. Tapi perihal suasana hati yang sesungguhnya bersama ikhlas menerima amanah yang telah diberikan kepada kita. Aku berjanji di th. paling akhir aku bersekolah sementara ini, bakal kubuat sebuah prestasi baru didalam hidupku. Berproses bersama baik maka hasil yang bakal kudapatkan bakal baik juga. Mengerjakan suatu hal bersama hati yang ikhlas dan penuh keyakinan. Seperti ikhlasnya dahan diterpa sinar matahari yang membuatnya indah dipandang hingga kapanpun.


Kalian mungkin bertanya-tanya, lalu apa maksud dahan yang rindang itu? Dahan yang rindang itu adalah umpama suasana hati yang tenang didalam hadapi sesuatu.

 

Hikam Fajri ®
Hikam Fajri ® Gue Hikam Fajri orangnye suka ngopi. Hehe... Jika ada pertanyaan, kritik, atau saran bisa langsung hubungin gue ke alamat Email [email protected]

Posting Komentar untuk "Cerpen : Dahan Dahan yang Rindang"

Berlangganan via Email

close
close
Getfile